
Ada satu fase dalam perjalanan organisasi yang sering kali menjadi ujian paling sunyi yakni ketika idealisme lama harus berhadapan dengan amanah baru, dan ketika suara kolektif mulai diuji oleh tanggung jawab personal.
Awal Januari 2026 menjadi titik balik itu. Sebuah Surat Keputusan (SK) dibacakan, menggeser peran beberapa pucuk pengurus Serikat Karyawan ke tampuk pimpinan struktural. Mereka yang biasanya berdiri di garis depan menyuarakan aspirasi, kini mengemban tanggung jawab sebagai Vice President dan Senior Manager dimana posisi strategis di Band Position II yang menentukan arah kebijakan perusahaan.
Di atas kertas, ini bisa jadi memang adalah prestasi yang membanggakan. Sebuah pengakuan atas kompetensi dan rekam jejak kontributif. Namun, di lorong-lorong kantor dan ruang diskusi virtual, sebuah tanya merayap pelan namun konsisten, apakah amanah ini akan memperkuat resonansi suara karyawan, atau justru perlahan meredamnya?
(lebih…)